Posted by : Fetri
Selasa, 13 Agustus 2013
Mahatma
Gandhi
Dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas
Mahatma
Gandhi
|
|
Lahir
|
2 Oktober 1869
Porbandar, Agen Kathiawar, India Britania[1] |
Meninggal
|
30 Januari 1948 (umur 78)
New Delhi, Jajahan India |
Sebab meninggal
|
Pembunuhan
|
Tempat peristirahatan
|
Dikremasi di Rajghat, Delhi.
28,6415°LU 77,2483°BT |
Kebangsaan
|
India
|
Nama panggilan
|
Mahatma Gandhi, Bapu, Gandhiji
|
Samaldas College, Bhavnagar,
Inner Temple, London |
|
Dikenal karena
|
Tokoh utama gerakan
kemerdekaan India,
mencetuskan ide Satyagraha dan Ahimsa menyerukan non-kekerasan, pasifisme |
Agama
|
|
Pasangan
|
|
Anak
|
|
Orang tua
|
Putlibai Gandhi (ibu)
Karamchand Gandhi (bapak) |
Tanda tangan
|
|
Mohandas
Karamchand Gandhi (lahir di Porbandar, Gujarat, India Britania, 2 Oktober 1869 – meninggal di New Delhi, India, 30 Januari 1948 pada umur 78 tahun) (aksara Devanagari: मोहनदास करमचन्द गांधी) juga dipanggil Mahatma
Gandhi (bahasa Sanskerta:
"jiwa agung") adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India.
Pada
masa kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk
di koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar
dapat memerintah negaranya sendiri.
Gandhi
adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Dia adalah aktivis yang
tidak menggunakan kekerasan, yang
mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.
Biografi
Gandhi
lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di
India. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat
remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk
mempelajari hukum.
Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah
koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian
memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik
agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun
membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.
Ketika
kembali ke India,
dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini
memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang
mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk
kemudian membentuk Persemakmuran.
Rakyat
dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di
India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar
kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin
agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri.
Gandhi adalah seorang Hindu namun
dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya
bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama
secara damai di dalam satu negara.
Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua
negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak
disetujui Gandhi.
Prinsip
Gandhi, satyagraha,
sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan
menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis
demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi
sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan
kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).
Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang
marah kepada Gandhi karena ia terlalu memihak kepada Muslim.
Warisan
ajaran Gandhi di Indonesia
Selain
tokoh-tokoh perjuangan anti kekerasan, keadilan dan perdamaian di tingkat
dunia, di Indonesia pun ajaran Gandhi menemukan lahan yang subur. Ibu Gedong Bagoes Oka, misalnya, menemukan inspirasi
perjuangannya di dalam ajaran Gandhi. Ia mendirikan Ashram Gandhi di Candi Dasa, Bali sebagai pusat pendidikan
dan pengamalan ajaran-ajaran Gandhi tersebut.
Warisan
dan penggambaran dalam budaya populer
Gelar Mahatma sering
disalahartikan di Barat sebagai nama kecil Gandhi. Mahatma merupakan sebuah
kata dalam bahasa Sanskerta yang
berasal dari maha (berarti besar)
dan atma (berarti Jiwa). Rabindranath
Tagore disebutkan sebagai orang yang pertama kali
memberikan gelar tersebut untuk Gandhi.[2] Dalam
otobiografinya, Gandhi mengatakan bahwa dia tidak pernah menyukai gelar dan
sering terluka oleh hal itu.[3]
Kisah
hidup Mahatma Gandhi telah banyak dituangkan ke dalam film, sastra, dan teater. Ben Kingsley yang
memerankan Gandhi dalam film tahun 1982 Gandhi,
memenangkan Academy Award untuk Aktor Terbaik. The Making of the Mahatma yang
dirilis pada tahun 1996 mendokumentasikan kehidupan Gandhi di Afrika Selatan. Gandhi
juga merupakan tema sentral dalam film Bollywood tahun
2006 Lage Raho Munna Bhai. Pada tahun 2007, sebuah
film berjudul Gandhi, My Father menceritakan
hubungan antara Gandhi dan putranya Harilal.
Lain-lain
Patung
Mahatma Gandhi (Józef
Gosławski, 1932)
Gandhi tidak pernah
menerima Penghargaan Perdamaian Nobel, meski dia dinominasikan
lima kali antara 1937 dan 1948. Beberapa dekade kemudian, hal ini disesali
secara umum oleh pihak Komite Nobel. Ketika Dalai Lama dianugerahi
Penghargaan Nobel pada 1989,
ketua umum Komite mengatakan bahwa ini merupakan "sebuah bentuk mengenang
Mahatma Gandhi".
Sepanjang
hidupnya, aktivitas Gandhi telah menarik berbagai komentar dan opini. Misalnya,
sebagai penduduk Kerajaan Britania, Winston Churchill pernah
berkata "Menyedihkan...melihat
Mr. Gandhi, seorang pengacara Kuil Tengah yang menghasut, sekarang tampil
sebagai seorang fakir yang tipenya umum di Timur, menaiki tangga Istana Viceregal dengan
badan setengah-telanjang." Begitu juga dengan Albert Einstein yang
berkomentar berikut mengenai Gandhi: "(Mungkin)
para generasi berikut akan sulit mempercayai bahwa ada orang seperti ini yang
pernah hidup di dunia ini."
Karya
Mahatma Gandhi tidak terlupakan oleh generasi berikutnya. Cucunya, Arun Gandhi dan Rajmohan Gandhi dan
bahkan anak cucunya, Tushar Gandhi, adalah
aktivis-aktivis sosio-politik yang terlibat dalam mempromosikan non-kekerasan
di seluruh dunia.
Kata
kebajikan yang dikenang Mahatma Gandhi:
“
|
Cinta tidak pernah meminta, ia
sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam,
tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala
kebencian membawa kepada kemusnahan.
|
”
|
“
|
Jadilah kamu manusia yang pada
kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang
menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu
sendiri yang tersenyum.
|
Related Posts :
- Back to Home »
- Biografi Tokoh , Ilmu Pengetahuan »
- Mahatma Gandhi
